Rabu, 28 Maret 2012

Rekonstruksi Sistem dan Pemikiran Pendidikan Islam


Pendidikan Islam dan Pengembangan Masyarakat
A.  Pendahuluan

          Mengkaji tentang pendidikan maka tidak akan terlepas dari ilmu pengetahuan. Berdasarkan hakikat ilmu,ilmu dapat  ditinjau dari segi ontologis, epistemelogis maupun aksiologisnya.Landasan ontologis adalah mengenai obyek apa yang ditelaah ilmu, bagaimana ujud yang hakiki dari obyek tersebut dan bagaimana hubungan antara obyek tadi dengan daya tangkap manusia yang membuahkan pengetahuan [1]
Landasan epistimologis adalah bagaimana proses yang memungkinkan ditimbanya pengetahuan yang berupa ilmu bagaimana prosedurnya, hal-hal apa yang harus diperhatikan agar mendapatkan pengetahuan yang benar, apa kriterianya, apa yang disebut kebenaran, cara/teknik/sarana apa yang membantu dalam mendapatkan pengetahuan yang berupa ilmu[2]
Landasan aksiologis adalah untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu dipergunakan,bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral,bagaimana penentuan obyek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral bagaimana kaitan antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma moral/profesional[3]
Pada landasan aksiologis dalam pandangan kaum rasionalis mengatakan bahwa sains is to sains artinya bahwa ilmu untuk ilmu, ini berarti bahwa ilmu adalah bebas nilai / tidak terikat nilai.Pandangan kaum rasionalis ini tidak sejalan dengan  tujuan pendidikan yang seharusnya bermuatan nilai.
Pendidikan adalah usaha sadar yang dilakukan oleh keluarga, masyarakat dan pemerintah,   melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan latihan yang berlangsung di sekolah dan di  luar sekolah sepanjang hayat, untuk mempersiapkan peserta didik agar dapat memainkan peranan dalam berbagai lingkungan hidup secara tepat di masa yang akan datang (Arkam, 2006: )[4]
Tujuan pendidikan adalah  transfer pengetahuan (transfer of knowledge), transfer metode (transfer of methodology) dan transfer nilai-nilai (transfer of values)[5]
Pendidikan  transfer nilai-nilai (transfer of values) adalah membentuk manusia yang mempunyai keseimbangan antara kemampuan kognitif, psikomotorik, afektif, nilai nilai keimanan,ketakwaan  akhlak mulia,transformasi yang mendukung kemajuan pribadi dan sosial
UNESCO  dengan  standar pendidikan telah menetapkan  empat pilar  pendidikan  yaitu: learning to know (belajar untuk mengetahui),  learning to do (belajar untuk berbuat)  learning to be (belajar   untuk menjadi seseorang) dan learning to live together ( belajar untuk hidup  bersama).
1.      Learning to know  (belajar untuk mengetahui),yaitu menitik beratkan pada proses belajar mengajar itu sendiri, pendidikan sebagai suatu cara mengajarkan bagaimana siswa belajar secara benar dan baik guna menambah pengetahuan dan pemahaman menurut ukuran ukuran tertentu[6] Praktiknya guru harus mampu menempatkan dirinya sebagai fasilitator. Di samping itu guru dituntut untuk dapat berperan ganda sebagai kawan berdialog bagi siswanya dalam rangka mengembangkan penguasaan pengetahuan siswa.[7]
2.      Learning to do (belajar untuk melakukan sesuatu), sekolah sebagai lembaga pendidikan formal mengajarkan siswa tentang cara melakukan sesuatu dengan kata lain pembekalan ketrampilan ketrampilan hidup (life skills) secara lebih luas[8]. Memberi kesempatan kepada peserta didik untuk tidak hanya memperoleh ketrampilan kerja, tetapi juga memperoleh kompetensi untuk menghadapi pelbagai situasi serta kemampuan bekerja dalam tim, berkomunikasi,serta menangani dan menyelesaikan masalah dan perselisihan. Termasuk di dalam pengertian ini adalah kesempatan untuk memperoleh pengalaman dalam bersosialisasi maupun bekerja di luar kurikulum seperti magang kerja, aktivitas pengabdian masyarakat, berorganisasi serta mengikuti pertemuan-pertemuan ilmiah dalam konteks lokal maupun nasional, ataupun dikaitkan dengan program belajar seperti praktek kerja lapangan, kuliah kerja nyata atau melakukan penelitian bersama.[9]
3.      Learning to be” (belajar untuk menjadi seseorang).menekankan cara menjadi “orang” sesuai dengan kerangka pikir siswa berkaitan dengan bekal keahlian masing masing disiplin ilmu yang ditekuni siswa. [10]Hal ini erat sekali kaitannya dengan bakat, minat, perkembangan fisik, kejiwaan, tipologi pribadi anak serta kondisi lingkungannya. Misal : bagi siswa yang agresif, akan menemukan jati dirinya bila diberi kesempatan cukup luas untuk berkreasi. Dan sebaliknya bagi siswa yang pasif, peran guru sebagai kompas penunjuk arah sekaligus menjadi fasilitator sangat diperlukan untuk menumbuhkembangkan potensi diri siswa secara utuh dan maksimal.Mengembangkan kepribadian dan kemampuan untuk bertindak secara mandiri, kritis, penuh pertimbangan serta bertanggung jawab. Dalam hal ini pendidikan tak bisa mengabaikan satu aspek pun dari potensi seseorang seperti ingatan, akal sehat, estetika, kemampuan fisik serta ketrampilan berkomunikasi
4.      Learning to live together” (belajar untuk menjalani kehidupan bersama), pada pilar keempat ini, kebiasaan hidup bersama, saling menghargai, terbuka, memberi dan menerima perlu dikembangkan di sekolah. Kondisi seperti inilah yang memungkinkan tumbuhnya sikap saling pengertian antar ras, suku, dan agama[11]

 Sementara menurut Hasan Langgulung, pengertian pendidikan itu dapat ditinjau dari dua segi, yaitu dari sudut pandangan masyarakat dan dari segi pandangan individu. Dari sudut pandangan masyarakat memandang pendidikan sebagai pewarisan kebudayaan atau nilai-nilai budaya baik yang bersifat intelektual, ketrampilan, keahlian dari generasi tua kepada generasi muda agar masyarakat tersebut dapat memelihara kelangsungan hidupnya atau tetap memelihara kepribadiannya. Dari segi pandangan individu pendidikan berarti upaya pengembangan potensi-potensi yang dimiliki individu yang masih terpendam agar dapat teraktualisasi secara konkrit, sehingga hasilnya dapat dinikmati           oleh     individu           dan      masyarakat.
          Pendidikan Islam masih menurut Hasan Langgulung didefinisikan sebagai: “ suatu proses spiritual, akhlak, intelektual, dan sosial yang berusaha membimbing manusia dan memberinya nilai-nilai, prinsip-prinsip dan teladan ideal dalam kehidupan yang bertujuan mempersiapkan kehidupan dunia dan akherat. 
Prinsip pendidikan islam adalah pendidikan yang universal. Prinsip ini maksudnya adalah pandangan yang menyeluruh pada seluruh aspek kehidupan manusia. Agama Islam yang menjadi dasar pendidikan islam bersifat menyeluruh terhadap wujud, alam ,jagat dan hidup. Ia menekankan pandangan yang menghimpun roh dan badan, antar individu dan masyarakat, antara dunia dan akhirat antara material dan spiritual. Pendidikan yang berprinsip ini bertujuan menumbuhkan ,mengembangkan dan membangun segala aspek kepribadian manusia dan segala potensi dan dayanya.juga mengembangkan segala segi kehidupan dalam masyarakat,seperti sosial budaya, ekonomi politik dan berusaha turut serta menyelesaikan masalah masalah masyarakat masa kini dan bersiap menghadapi tuntutan tuntutan masa depan dan memelihara sejarah dan kebudayaannya.[12]  
          Pada prinsipnya tujuan pendidikan Islam haruslah selaras dengan tujuan risalah Islam, sejalan dengan tujuan syari’at Islam. Karena itu tujuan pendidikan Islam harus bersifat universal dan selalu aktual dengan segala zaman, sebagaimana selalu aktualnya ajaran Islam, sehingga tujuan syari’at Islam yang hendak mewujudkan rahmatan li al-alamin benar-benar dapat direalisasikan
Sehingga  konsep pendidikan Islam pada dasarnya berusaha mewujudkan manusia yang baik atau manusia universal (insan kamil) yakni sesuai dengan fungsi diciptakannya manusia dimana ia membawa dua misi, yaitu: pertama sebagai ‘abdullah (hamba Allah) dan kedua, khalifatullah fil ardl (wakil Allah di muka bumi).
Oleh karena itu pendidikan islam yang di ajarkan oleh lembaga pendidikan  idealnya tidak hanya sebatas pada tujuan  tiga ranah ; kognitif, afektif dan psikomotorik, sehingga pendidikan Islam tidak bisa bebas nilai, lebih jauh pendidikan Islam diharapkan mampu memberikan warna di masyarakat, Oleh karena itu pendidikan harus berorientasi pada masyarakat.
Hal ini bisa dilakukan dengan  pendekatan penanaman nilai budi pekerti, pendekatan integratif dalam proses pembelajaran akhlak, dan pendekatan multikulturalisme yang kesemuanya dalam rangka menuju  masyarakat madani. masyarakat madani sebagaimana konsep yang pernah di bangun rasulullah SAW di Madinah dengan meletakkan sendi sendi demokrasi dalam kehidupan

B.   Permasalahan
1.      Bagaimana seharusnya kontribusi pendidikan Islam  bagi Pengembangan Masyarakat?
2.      Apa upaya yang dilakukan lembaga pendidikan untuk mewujudkannya
C.  Pembahasan
Kontribusi pendidikan dalam upaya  pengembangan masyarakat 
Dalam upaya pengembangan masyarakat, kontribusi yang harus dilakukan oleh lembaga pendidikan, khususnya pendidikan islam adalah menghasilkan pendidikan yang bernilai di masyarakat,  harmonisasi (keserasian hidup) di masyarakat, menuju terbentuknya masyarakat madani
1.   Bentuk pendidikan yang bernilai
            Pendidikan sebagai proses transfer nilai setidaknya memiliki tiga sasaran: Pertama, tujuan pendidikan adalah untuk membentuk manusia yang mempunyai keseimbangan antara kemampuan kognitif dan psikomotorik di satu sisi,serta kemampuan afektif di sisi yang lain. Kedua, dalam hal ini nilai nilai yang ditrasfer termasuk nilai nilai keimanan,ketakwaan dan akhlak mulia yang senantiasa menjaga keharmonisan relasi dengan Tuhan (Hablun min Allah), dengan sesama, (hablun min al-nas) dan dengan alam sekitarnya (hablun min al-‘alam). Ketiga, transformasi nilai nilai yang mendukung kemajuan pribadi dan sosial,seperti menghargai waktu,disiplin , etos kerja, kemandirian dan sebagainya[13]
2.   Harmonisasi di lingkungan masyarakat
Manusia hidup dilingkungan yang multikultural (perbedaan budaya, etnik, jender, bahasa ataupun agama) sehingga perlu dibangun masyarakat yang harmoni. Harmonisasi yang ingin dibangun dilingkungan masyarakat adalah kesediaan menerima kelompok lain secara sama sebagai kesatuan tanpa mempedulikan perbedaan budaya, etnik, jender, bahasa ataupun agama,sehingga terbangun sikap toleransi
3.   Menuju terbentuknya masyarakat madani
Terminologi masyarakat madani pertama kali dipopulerkan oleh Mohammad An-Nuqaib Al-Attas, yaitu Mujtama’ madani yang secara etimologi mempunyai dua arti: pertama, masyarakat kota, karena madani adalah derivat dari bahasa arab “madinah” yang berarti kota . Kedua, masyarakat yang berperadaban karena madani adalah juga merupakan derivat dari kata bahasa arab  tamaddun atau madaniah yang berarti peradaban. Dalam bahasa Inggris dikenal dengan civility atau civilization, maka dari makna ini masyarakat madani dapat berarti dengan Civil Society yaitu masyarakat yang menjunjung nilai nilai peradaban.[14]
M. Dawam Raharjo menyatakan bahwa secara harfiah civil society merupakan terjemahan dari istilah latin yang “civilis societas” yang sudah ada sejak sebelum masehi. Istilah ini mula mula di dimunculkan oleh Cicero(106 – 43 SM) seorang orator dan pujangga Roma yang pengertiannya mengacu pada gejala budaya perorangan dan masyarakat. Masyarakat sipil disebutnya sebagai sebuah masyarakat politik (political society) yang beradab dan memiliki kode hukum sebagai dasar pengaturan hidup.adanya hukum yang mengatur pergaulan  antara individu menandai keberadaban suatu jenis masyarakat tersendiri.Masyarakat seperti itu,di zaman dahulu adalah masyarakat yang tinggal di kota.[15]
Dalam perspektif Islam masih menurut M Dawam Raharjo,civil society lebih mengacu kepada penciptaan peradaban. Kata al-din yang umumnya diterjemahkan sebagai agama, berkaitan dengan makna al-tamaddun atau peradaban. Keduanya menyatu dalam pengertian al -madinah yang arti harfiyahnya adalah kota. Dengan demikian makna civil society diterjemahkan sebagai masyarakat madani yang mengandung tiga hal, yakni agama, peradaban dan perkotaan.Dari konsep ini tercermin agama merupakan sumber, peradaban adalah prosesnya, dan masyarakat adalah hasilnya[16]
  Karakteristik masyarakat madani adalah masyarakat kota,masyarakat yang berperadaban,masyarakat yang memiliki pola kehidupan yang benar,yaitu masyarakat yang menetap bukan masyarakat nomaden. Selain itu, juga masyarakat yang terbuka, pluralistik, menjamin kebebasan beragama,jujur, adil, mandiri, harmonis. Dalam ,masyarakat madani pelaku sosial akan selalu berpegang teguh pada peradaban dan kemanusiaan yang bercirikan demokratisasi dalam berinteraksi di masyarakat yang plural dan heterogen.[17]
 Masyarakat madani yang hendak diwujudkan antara lain mempunyai karakteristik, sebagai berikut;Pertama, masyarakat beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang maha Esa yang memiliki pemahaman yang mendalam akan agama serta hidup berdampingan dan saling menghargai perbedaan agama masing masing. Kedua, masyarakat demokratis dan beradab yang menghargai adanya perbedaan pendapat. Memberi tempat dan penghargaan perbedaan pendapat serta mendahulukan kepentingan bangsa di atas kepentingan individu, kelompok dan golongan.Ketiga, masyarakat yang menghargai hak hak asasi manusia, mulai dari hak mengeluarkan pendapat, berkumpul dan berserikat, hak atas kehidupan yang layak, hak memilih agama, hak atas pendidikan dan pengajaran, serta hak untuk memperoleh pelayanan dan perlindungan hukum yang adil. Keempat,  masyarakat yang tertib dan sadar hukum yang direfleksikan dari adanya budaya malu apabila melanggar hukum.Kelima, masyarakat yang kreatif mandiri dan percaya diri.masyarakat yang memiliki orientasi kuat pada penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Keenam, masyarakat yang memiliki semangat kompertitif dalam suasana kooperatif,penuh persaudaraan dengan bangsa bangsa lain dengan semangat kemanusiaan yang universal (pluralistik)[18]

Upaya rekonstruksi  pendidikan  bagi  pengembangan masyarakat
1.   Pendekatan dengan pendidikan nilai/ budi pekerti/ akhlak
Pendidikan budi pekerti merupakan pendidikan nilai nilai luhur yang berakar dari agama adat istiadat,dan budaya bangsa dalam rangka mengembangkan kepribadian peserta didik supaya menjadi manusia yang baik
Dengan memperkaya dimensi nilai moral,dan norma pada aktivitas pendidikan di sekolah, akan memberi pegangan hidup yang kokoh bagi anak anak dalam menghadapi perubahah sosial (morally mature) akan menjadikan seorang anak mampu memperjelas dan menentukan sikap terhadap substansi nilai dan norma baru yang muncul dalam proses perubahan[19]
Ada dua aspek yang menjadi orientasi pendidikan budi pekerti. Pertama ,membimbing hati nurani peserta didik agar berkembang lebih positif secara bertahap dan berkesinambungan. Hasil yang diharapkan hati nurani peserta didik akan mengalami perubahan yang semula bercorak egosentris menjadi altruis. Kedua, memupuk mengembangkan dan menanamkan nilai nilai dan sifat sifat positif ke dalam pribadi peserta didik. Seiring dengan itu pendidikan budi pekerti juga mengikis dan menjauhkan peserta didik dari sifat sifat dan nilai nilai buruk. Hasil yang diharapkan ia akan mengalami proses trasformasi nilai,transaksi nilai dan trans-internalisasi (proses pengorganisasian dan pembiasaan nilai nilai kebaikan menjadi kepercayaan / keimanan yang mempribadi).[20]
Atas dasar ini dapat dipahami bahwa titik tekan pendidikan budi pekerti adalah mengembangkan potensi potensi kreatif subjek didik agar menjadi manusia “ baik” baik menurut pandangan manusia dan baik menurut pandangan Tuhan[21]
Dalam praktiknya dapat diwujudkan melalui pola pola pembiasaan sosial baik dilingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat. Ketiga lingkungan ini dituntut sumbangannya menciptakan ruangan kondusif bagi penghayatan dan pengamalan akhlak
Proses penanaman budi pekerti yang dianggap cocok untuk peserta didik adalah model pembelajaran yang didasarkan pada interaksi sosial (model interaksi) dan transaksi.Pembelajaran ini berlandaskan prinsip prinsip:(a) melibatkan peserta didik secara aktif dalam belajar; (b) mendasarkan pada perbedaan individu; (c) mengaitkan teori dengan praktik; (d) mengembangkan komunikasi dan kerjasama dalam belajar;(e) meningkatkan keberanian peserta didik dalam mengambil resiko dan belajar dari kesalahan;(f) meningkatkan pembelajaran sambil berbuat dan bermain;(g) menyesuaikan pelajaran dengan perkembangan kognitif yang masih pada taraf operasi konkret. Di samping itu dalam menyajikan pokok pokok bahasan tentang moral berdasarkan prinsip prinsip:(1) dari mudah ke sukar,(2) dari sederhana ke rumit,(3) dari yang bersifat konkret ke abstrak,(4) menekankan pada lingkungan yang paling dekat dengan anak samapai pada lingkungan kemasyarakatan yang lebih luas[22]

Menurut pandangan Zubaidi[23] ada beberapa pendekatan dalam pendidikan budi pekerti
a.    Pendekatan penanaman nilai
Pendekatan penanaman nilai adalah suatu pendekatan yang memberi  penekanan pada penanaman nilai nilai sosial pada peserta didik karena nilai nilai sosial berfungsi sebagai acuan bertingkah laku dalam berinteraksi dengan sesama sehingga keberadaannya dapat diterima di masyarakat. Nilai nilai sosial terdiri atas beberapa sub nilai, yaitu:(1) loves (kasih sayang) yang terdiri atas pengabdian, tolong menolong, kekeluargaan, kesetiaaan,dan kepedulian;(2) resposibility ( tanggung jawab) yang terdiri atas nilai rasa memiliki, disiplin dan empati;(3) life harmony ( keserasian hidup) yang terdiri atas nilai keadilan, toleransi, kerjasama dan demokrasi.
b. Pendekatan perkembangan kognitif
Pendekatan ini mendorong peserta didik untuk berpikir aktif tentang masalah masalah moral dan dalam membuat keputusan moral. Perkembangan moral menurut pendekatan ini dilihat sebagai perkembangan tingkat berpikir dalam membuat pertimbangan moral dari tingkat yang lebih rendah ke tingkat yang lebih tinggi
Tujuan yang ingin dicapai oleh pendekatan ini ada dua hal utama.Pertama, membantu peserta didik dalam membuat pertimbangan moral yang lebih kompleks berdasarkan nilai yang lebih tinggi. Kedua, mendorong peserta didik untuk mendiskusikan alasan alasannya ketika memilih nilai dan posisinya dalam suatu masalah moral
c.    Pendekatan analisis nilai
Pendekatan ini memberikan penekanan pada perkembangan kemampuan peserta didik untuk berpikir logis,dengan cara menganalisis masalah yang berhubungan dengan nilai nilai sosial.
Ada dua tujuan moral menurut pendekatan ini.Pertama, membantu peserta didik untuk berpikir logis dan penemuan ilmiah dalam menganalisis masalah masalah sosial yang berhubungan dengan nilai moral tertentu. Kedua,membantu peserta didik untuk menggunakan proses berpikir rasional dan analitik dalam menghubung hubungkan dan merumuskan konsep tentang nilai nilai mereka
d.   Pendekatan klarifikasi nilai
Pendekatan ini memberikan penekanan pada usaha membantu peserta didik dalam mengkaji perasaan dan perbuatannya sediri, untuk meningkatkan kesadaran mereka tentang nilai nilai mereka sendiri ( sangat efektif untuk pendidikan demokrasi)
Tujuan pendidikan nilai menurut pendekatan ini ada tiga. Pertama membantu peserta didik untuk menyadari dan mengidentifikasi nilai nilai mereka sendiri serta nilai nilai orang lain. Kedua, membantu peserta didik,supaya mereka mampu berkomunikasi secara terbuka dan jujur dengan orang lain,berhubungan dengan nilai nilainya sendiri. Ketiga, membantu peserta didik supaya mereka mampu menggunakan secara bersama sama kemampuan berpikir rasional dan kesadaran emosional untuk memahami perasaan, nilai nilai dan pola tingkah laku mereka sendiri.
Fokus dan proses klarifikasi nilai adalah bagaimana seseorang sampai pada pemilikan nilai nilai tertentu dan membentuk pola pola tingkah laku.
e.       Pendekatan pelajaran berbuat
Penekanannya pada pemberian kesempatan kepada peserta didik untuk melakukan perbuatan perbuatan moral,baik secara perseorangan maupun bersama sama dalam suatu kelompok.
  Ada dua tujuan utama pendidikan moral dengan pendekatan ini. Pertama, memberi kesempatan kepada peserta didik untuk melakukan perbuatan moral, baik secara perseorangan maupun bersama sama berdasarkan nilai nilai mereka sendiri. Kedua ,mendorong peserta didik untuk memposisikan diri mereka sebagai makhluk individu dan makhluk sosial dalam pergaulan dengan sesama.Konsekuensinya,mereka tidak bisa bertindak bebas sekehendak hati,namun bersiakp sebagai bagian dari suatu masyarakat yang harus mengambil bagian dalam suatu proses demokrasi
2.   Pendekatan integratif dalam proses pembelajaran akhlak
 Pendekatan integratif dalam proses pembelajaran akhlak dilakukan dalam rangka membentengi moralitas siswa dalam menghadapi godaan,residu,dan pengaruh pengaruh negatif dari kehidupan modern.Akibat masih rapuhnya bangunan moral atau akhlak mengakibatkan sebagian anak dan remaja yang nota bene pelajar (setidak tidaknya pernah menjadi pelajar) gampang terjerembab dalam lingkaran pergaulan bebas, penyalahgunaan narkoba, kriminalitas, tawuran,dan praktik amoral lain.
Tanggung jawab untuk membentuk moral/ akhlak siswa mestinya bersifat kolektif bukan semata mata  menjadi beban dan tanggung jawab guru agama dan pendidikan agama. Jadi semua pihak dituntut peran aktifnya terlibat dalam pendidikan akhlak atu budi pekerti di sekolah.di samping itu memerlukan dukungan positif dari orang tua atau keluarga serta lingkungan di mana anak anak bergaul, berteman dan bermasyarakat.
Langkah yang dilakukan  untuk pendekatan integratif dalam proses pembelajaran akhlak anak,Pertama, menghapus dikotomi tugas dan kewajiban dalam mendidik akhlak anak. Pendidikan akhlak/ moral bukan hanya menjadi tanggung jawab guru agama dan Pkn  tetapi menjadi tanggung jawab seluruh pengajar di sekolah. Kedua, membangun sinergi antar pelajaran. Proses penanaman nilai nilai akhlak atau budi pekerti di sekolah dasar hingga sekolah menengah akan berjalan efektif jika ada korelasitas( saling berhubungan) ,koneksitas (saling menyapa),dan hubungan sinergis antara pendidikan agama dengan mata pelajaran lainnya.sehingga secara substansial dunia pendidikan kita tidak mengembangkan keyakinan  “ilmu bebas nilai” tetapi “ilmu bermuatan nilai”. Ketiga, komitmen kolektif, yaitu semua elemen di luar pendidikan agama seperti institusi keluarga, sekolah dan lingkungan masyarakat dituntut sumbangannya menciptakan ruangan yang kondusif bagi penghayatan dan pengamalan akhlak, lebih utamanya adalah keluarga sebagai model dalam mengamalkan budi pekerti.
3.   Pendekatan multikulturalisme dan implementasinya dalam dunia pendidikan
Konsep pendidikan multikulturalisme adalah berintikan penekanan upaya internalisasi dan karakterisasi sikap toleransi terhadap perbedaan agama,ras, suku, adat dan lain lain. Multikulturalisme memberikan penegasan bahwa dalam segala perbedaannya itu mereka adalah sama di dalam ruang publik sehingga dibutuhkan kesediaan menerima kelompok lain secara sama sebagai kesatuan tanpa mempedulikan perbedaan budaya, etnik, jender, bahasa ataupun agama
Oleh karena itu, prinsip multikulturalisme dapat dijadikan sebagai setrategi dan pendekatan dalam merajut hubungan antara warga  yang belakangan ini mudah terbawa dalam suasana yang penuh konfliktual sebagai efek sampingan dari era keterbukaan.
Beberapa aspek yang menjadi kunci dalam melaksanakan pendidikan multikultural dalam struktur sekolah adalah tidak adanya kebijakan yang menghambat toleransi, menumbuhkan kepekaan terhadap perbedaan budaya.
Untuk sampai pada kesimpulan mengenai apa itu pendidikan berwawasan multikultural- khususnya dalam konteks pendidikan agama- ada karakteristik karakteristik utamanya yang meliputi: belajar hidup dalam perbedaan, rasa saling percaya, saling memahami saling menghargai, berpikir terbuka, apresiasi, interdepedensi,resolusi konflik dan rekonsiliasi nirkekerasan[24]
a.       Belajar hidup dalam perbedaan
Menanamkan karakteristik “belajar hidup dalam perbedaan” (penerapan pilar keempat yang dicanangkan UNESCO).yaitu ;pengembangan sikap toleran, empati, dan   simpati. Penerapan pendidikan agama berwawasan  multitikultural dirancang untuk menanamkan sikap toleran dari tahap yang minimalis hingga maksimalis, dari yang dekoratif hingga solid ; perlu klarifikasi nilai nilai kehidupan bersama menurut perspektif agama agama ;pendewasaan emosional; kesetaraan dalam partisipasi
b.      Membangun saling percaya
Menggarisbawahi perlunya pencerahan antar agama,antar kultur dan antar etnik dari sikap rasa saling curiga yang dapat mengarahkan pada ketegangan dan konflik
c.       Memelihara saling pengertian
Pendidikan mempunyai tanggung jawab membangun landasan etis kesalingsepahaman antara entitas entitas agama dan budaya yang plural.
d.      Menjunjung sikap saling menghargai
Sikap yang mendudukkan semua manusia dalam relasi kesetaraan tidak ada superioritas dan inferioritas
e.       Terbuka dalam berpikir
Mengkondisikan siswa untuk berjumpa dengan pluralitas pandangan dan perbedaan radikal yang menantang identitas lama dan segalanya mulai tampak dalam sinar baru
f.       Apresiasi dan interdepedensi
Terciptanya sebuah tatanan sosial yang care, dimana semua anggota masyarakatnya dapat saling menunjukkan apresiasi dan memelihara relasi keterikatan dan kesalingkaitan sosial yang rekat.
g.      Resolusi konflik dan rekonsiliasi nirkekerasan
Pendidikan harus hadir menyuntikkan spirit dan kekuatan spiritual sebagai sarana integrasi dan kohesi sosial,dan perlunya rekonsiliasi dengan saling memaafkan

D.  Kesimpulan/ Penutup
Pendidikan adalah usaha sadar yang dilakukan oleh keluarga, masyarakat dan pemerintah, melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan latihan yang berlangsung di sekolah dan di  luar sekolah sepanjang hayat, untuk mempersiapkan peserta didik agar dapat memainkan peranan dalam berbagai lingkungan hidup secara tepat di masa yang akan datang
UNESCO  dengan  standar pendidikan telah menetapkan  empat pilar  pendidikan  yaitu: learning to know (belajar untuk mengetahui),  learning to do (belajar untuk berbuat)  learning to be (belajar   untuk menjadi seseorang) dan learning to live together ( belajar untuk hidup  bersama).
Konsep pendidikan Islam pada dasarnya berusaha mewujudkan manusia yang baik atau manusia universal (insan kamil) yakni sesuai dengan fungsi diciptakannya manusia dimana ia membawa dua misi, yaitu: pertama sebagai ‘abdullah (hamba Allah) dan kedua, khalifatullah fil ardl (wakil Allah di muka bumi).
Oleh karena itu pendidikan islam yang di ajarkan oleh lembaga pendidikan  idealnya tidak hanya sebatas pada tujuan  tiga ranah ; kognitif, afektif dan psikomotorik, lebih jauh pendidikan Islam diharapkan mampu memberikan warna di masyarakat, Oleh karena itu pendidikan harus berorientasi pada masyarakat.
Dalam upaya pengembangan masyarakat, kontribusi yang harus dilakukan oleh lembaga pendidikan, khususnya pendidikan islam adalah menghasilkan pendidikan yang bernilai di masyarakat,  harmonisasi (keserasian hidup) di masyarakat, menuju terbentuknya masyarakat madani.
 Hal ini bisa dilakukan dengan  pendekatan penanaman nilai budi pekerti, pendekatan integratif dalam proses pembelajaran akhlak, dan pendekatan multikulturali yang kesemuanya dalam rangka menuju  masyarakat madani. Masyarakat madani sebagaimana konsep yang pernah di bangun rasulullah SAW di Madinah dengan meletakkan sendi sendi demokrasi dalam kehidupan











Daftar Pustaka

Arkam, Faridal. Pengaruh Pendidikan Agama Islam Terhadap Pembentukan Akhlak  Siswa.accesed  from www.wordpress.com.

 Ahmad Tantowi, 2008. Pendidikan Islam di Era transformasi Global, Semarang: Pustaka Rizki Putra

 Hujair AH.Sanaky, 2003,Paradigma Pendidikan Islam :Membangun Masyarakat Madani Indonesia , Yogyakarta: Safiria Insania press

 M.Dawam Raharjo, 2000. Sejarah Agama dan masyarakat madani, dalam widodo Usman dkk,(ed),Membongkar Mitos Masyarakat Madani ,Yogyakarta: Pustaka Pelajar offset

     Ramayulis. 2008. Ilmu Pendidikan Islam Jakarta : Kalam Mulia

     Zakiyuddin Baiidhawy. 2005. Pendidikan Agama berwawasan Multikultural, Jakarta :Erlangga

http://roebyarto.multiply.com/journal/item/91

http://filsafatindonesia1001.wordpress.com/2011/08/03/epistemologi-filsafat-pengetahuan/



[1] http://filsafatindonesia1001.wordpress.com/2011/08/03/epistemologi-filsafat-pengetahuan/, accesed,jum’at,24-2-2012, 10.30 wib
[2] ibid
[3] ibid
                 [4] Arkam, Faridal. Pengaruh Pendidikan Agama Islam Terhadap Pembentukan Akhlak Siswa.accesed  from www.wordpress.com.16 Juni 2011
             [5] Ahmad Tantowi,Pendidikan Islam di Era transformasi Global, (Semarang: Pustaka Rizki Putra,2008) hal. 22
                 [6] Zakiyuddin Baidhawy,Pendidikan Agama berwawasan Multikultural, (Jakarta :Erlangga, 2005) hal.79
                 [7] http://roebyarto.multiply.com/journal/item/91
                 [8] Zakiyuddin, ibid
                 [9] http://roebyarto.multiply.com/journal/item/91
                 [10] Zakiyuddin, ibid
                 [11] http://roebyarto.multiply.com/journal/item/91
                  [12] Ramayulis,Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta: Kalam Mulia,2008)hal.35
                  [13] ibid
               [14] Hujair AH.Sanaky,Paradigma Pendidikan Islam :Membangun Masyarakat Madani Indonesia (Yogyakarta: Safiria Insania press,2003) hal.19
                [15] M.Dawam Raharjo, Sejarah Agama dan masyarakat madani, dalam widodo Usman dkk,(ed),Membongkar Mitos Masyarakat Madani (Yogyakarta: Pustaka Pelajar offset, 2000), hal.18
                 [16] Ibid.,hal.25
                 [17] Hujair AH,Sanaky, ibid, hal.50
               [18] Ibid
               [19] Mulyana,Rohmat,Pergeseran Substansi Pendidikan ke Pengajaran(Bandung:PT Pikiran rakyat,1995) hal.4,acces from Zubaidi
              [20] Zubaidi,ibid
                [21] ibid
                [22] Ibid, hal 10
                [23] Ibid hal. 12-65
                 [24] Zakiyuddin, ibid hal 78 -84

Tidak ada komentar:

Posting Komentar